Tanpa Pemilu, Berikut Cara 5 Kelompok Hewan Memilih Pemimpinnya

Status pimpinan tidak cuman dikenali di dunia manusia, tetapi oleh hewan yang hidup bergerombol. Dalam beberapa kasus, kepimpinan hewan bahkan juga bisa saja bahan evaluasi manusia. Walau ini kedengar polemis, periset menjelaskan kita dapat pelajari diantaranya peranan pimpinan wanita melalui kepimpinan beberapa spesies mamalia.

Nah, walau tanpa pemilihan kepala daerah, beberapa cara hewan pilih pimpinan ada yang serupa yang dilaksanakan manusia lo. Dimulai dari langkah yang demokratis sampai kup. Merilis National Geographic, berikut Hipwee kumpulkan 5 langkah hewan saat menentukan pimpinannya.

Lain dengan manusia yang condong memandang umur yang terlalu tua selaku salah satunya kekurangan seorang pimpinan, gajah afrika malahan memandang hal itu selaku kelebihan. Gajah paling tua dijumpai lebih mengusai dalam membuat perlindungan barisan sebab punyai banyak pengalaman dan pengetahuan.

Salah satunya faktanya diketemukan oleh riset di Taman Nasional Ambosel Kenya. Riset itu mengutarakan jika gajah betina yang bisa hidup sampai umur 60 tahun adalah yang paling mengusai dalam mengenal auman singa beresiko. Disamping itu, gajah senior punyai daya ingat mengenai peta lanscape teritori untuk menuntun barisan ke sumber makanan dan air.

Seperti gajah afrika, hyena tutul afrika punyai pimpinan betina untuk temanan yang banyaknya dapat capai 130 ekor. Yang memikat, peralihan kekuasaan pada temanan hyena berlangsung turun temurun. Jadi, satu ekor hyena sebagai pimpinan adalah anak dari induk yang pimpinan. Dalam masalah ini, ada transfer pengetahuan dan kekuasaan sosial dari si induk ke calon pimpinan selanjutnya. Keseluruhannya, hyena betina memang menggenggam kendalian nyaris di semua faktor kehidupan.

Kup dan kekerasan. Dua kata yang ngeri-ngeri lezat ini rekat dengan status pimpinan barisan simpanse. Masalahnya pimpinan dalam barisan simpanse tidak dipastikan semenjak lahir dan rawan dikudeta. Supaya hal itu tidak berlangsung, pimpinan simpanse akan waspada dan lakukan bermacam langkah untuk menjaga tempatnya. Pakar ekologi Kampus Minnesota, Michael Wilson menjelaskan pimpinan simpanse akan berusaha keras untuk menjaga posisinya, bahkan juga dengan mengancam simpanse lain.

Walau kedengar horor, dalam beberapa kasus ada lo simpanse yang welas asih. Simpanse yang lebih kecil dan tidak agresif dijumpai punyai taktik berlainan menjadi dan menjaga kepimpinannya. Wilson yang mempelajari pimpinan simpanse namanya Freud di Taman Nasional Gombe Stream Tanzania, menjelaskan pejantan ini berkuasa dengan membuat ikatan antar sama-sama simpanse. Dengan pendekatan itu, Freud bisa balasan berbentuk kesetiaan dan sarana kekuasaan, seperti peluang makan, perawatan, dan kawin dari sekawannya.